Tuesday, July 26, 2011

PEMBELAJARAN REAKTIF DAN GENERATIF

Sanerya Hendrawan


Kedua moda pembelajaran ini berlangsung pada setiap orang dengan berbagai tingkat dan besaran yang berbeda-beda. Keduanya memang dibutuhkan untuk berlangsungnya kehidupan secara efektif, baik ditingkat individual maupun kolektif. Pembelajaran ini terbentuk dari interaksi antara berpikir (thinking) dan bertindak (acting). Dimulai dengan melakukan sesuatu tindakan (doing). Kemudian didapat hasil-hasil. Direfleksikan di dalam diri tingkat capaian hasil ini. Maka jika kemudian diketemukan prinsip-prinsip dari keberhasilan atau kegagalan ini, yang dengannya terbentuk tindakan atau perbuatan baru, terjadilah pembelajaran. Karena itu Kolb merinci lebih lanjut proses pembelajaran ini ke dalam sebuah siklus: do-act-observe-generalize-act (new). Pembelajaran karena itu melibatkan perbuatan, perasaan, pengamatan, dan pemikiran.


Dalam kontek reactive learning atau bisa disebut juga surface learning, tindakan adalah produk dari berpikir yang sudah mapan. Reaksi-reaksi merupakan unduhan dari kebiasan mental yang solid. Jadi tindakan bersifat repitisi, dengan pola-pola yang relatif teramalkan. Reactive learning identik dengan single-loop learning dari Schon. Yakni pembelajaran yang mengikuti aturan-aturan yang mapan yang tersurat dalam bentuk strategi, kebijakan, dan prosedur (following rules). Sehingga prosesnya berlangsung melalui deteksi dan koreksi penyimpangan-penyimpangan dari aturan tersebut. Dalam proses ini tidak ada pertanyaan atau gugatan atas aturannya sendiri (rules). Sehingga bisa dikatakan, pembelajaran berlangsung dalam konteks aturan yang telah ditentukan terlebih dulu.


Dalam kontek generative / deep learning. Belajar dan berubah merupakan dua hal yang menjatu. Untuk terjadinya pembelajaran, mesti ada perubahan. Sementara dalam perubahan itu terjadi pembelajaran. Setiap orang ataupun institusi karena itu harus menguasai proses perubahan dan pembelajaran ini. Pada level kelembagaan, penguasaan atas kedua hal ini melahirkan apa yang disebut “learning organization”. Yakni organisasi di mana:
1.    orang-orang di dalamnya secara terus menerus memperluas kapasitas menciptakan  hasil-hasil yang mereka inginkan,
2.     di mana pola-pola pikir baru yang ekspansif dipupuk untuk tumbuh,
3.     di mana dalam organisasi tersebut aspirasi kolektif bebas tumbuh dan berkembang,
4.     di mana semua orang belajar terus menerus bagaimana belajar secara bersama

Menurut Senge, deep learning diaktivasikan oleh lima disiplin. Pertama adalah pengendalian pribadi (personal mastery). Kedua adalah pola pikir dan sikap (mental model). Ketiga, pandangan bersama tentang masa depan (shared vision). Keempat, berpikir kesisteman (system thinking). Kelima, pembelajaran kelompok (team learning). Kelima disiplin ini, jika diterapkan secara konsisten, menghasilkan pemahaman tentang realitas yang lebih holistik, pada satu sisi. Dan sikap yang ingin melayani keseluruhan, yang mengatasi ego pribadi, dengan kata lain lebih altruistik, pada sisi lain. Jadi, berbeda dari yang pertama, pembelajaran generatif mampu menghasilkan transformasi pola pikir dan sikap serta perilaku yang lebih mendasar.

Kedua moda pembelajaran tersebut memiliki relevansinya masing-masing dalam kerangka pembentuan keperibadian islami atau insan kamil. Pembelajaran reaktif relevan manakala keyakinan dan nilai-nilai absolut keagamaan baik mencakup aqidah, muamalah, akhlaq menjadi ukuran ataupun kriteria pembelajaran (perubahan). Pada moda ini, perubahan terjadi secara konstan, tetapi terbatas di lapisan kulit atau permukaan. Sementara keyakinan dan nilai inti, yang berfungsi sebagai substansi, tetap terpelihara. Tradisi adalah produk dari pembelajaran reaktif ini. Lain halnya pembelajarn generatif. Pembelajaran ini diperlukan untuk membangun tradisi-tradisi baru yang merupakan inovasi personal, sosial maupun kelembagaan untuk menjawab berbagai tantangan jaman yang terus berkembang. Karena itu dituntut untuk mengkaji ulang nilai-nilai yang menjadi ukuran perubahan. Dalam tradisi Islam, ijtihad dalam berbagai urusan muamalah (seperti ekonomi, sosial, dan politik) adalah contoh nyata dari moda pembelajaran generatif ini. 

Thursday, July 21, 2011

MODA PEMBELAJARAN

Sanerya Hendrawan

Pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan insan kamil, sebagai konsep yang solid untuk keperibadian islami, membutuhkan sentuhan pendidikan pada semua aspek kemanusiaan secara integratif. Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ini meliputi perubahan jasmani (materi) dan perubahan ruhani (spiritual) secara simultan. Di dalamnya juga mencakup perubahan kesadaran, keyakinan, pikiran, perasaan dan emosi, serta perilaku secara konsisten. Jadi, untuk keberhasilan pembelajaran ini dibutuhkan berbagai moda pembelajaran yang relevan.

Secara sederhana moda pembelajaran ini melibatkan dua proses dimensional. Pertama adalah perjalanan ke dalam diri (Self), inner journey. Sebuah proses pengenalan diri untuk menemukan siapa dirinya, darimana asalnya, dan hendak kemana hidupnya. Ini adalah sebuah perjalanan untuk menggambarkan kalimat yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib: “man arafa nafsahu, arafa rabahu”, barangsiapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhan-Nya”. Perjalanan ke dalam diri bisa digambarkan sebagai proses (1) deepening, Pendalaman dan penyelaman hingga sampai kedalam ke-diri-an manusia yang sejati, Diri yang noumenon, diri asli (fitrah), the True Self ; dan (2) broadening, perluasan atau pelebaran lingkup dan rentang kesadaran, dari sekedar kesadaraan diri, lalu kesadaran kosmos, hingga sampai puncaknya pada kesadaran tauhid. Di lihat dari maksudnya, perjalan ke dalam diri adalah perjalanan menemukan alasan keberadaan, reasons to existence.
Kemudian kedua, perjalanan keluar diri, outer journey. Ini adalah perjalanan untuk meningkatkan nilai atau derajat kualitas kemanusiaan kita dalam kehidupan di dunia melalui berbagai garapan proyek sosial yang meningkatkan kualitas hidup bersama (enhancing) dan memperlebar atau memperluas kontribusi kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan (expanding). Ini sejalan dengan konsep al-Quran tentang pengutusan Rasulullah Muhammad saw: “wa ma arsanaka illa rahmatan lil alamiin”, dan sesungguhnya Aku mengutusmu, kecuai untuk rahmat bagi semesta.


Dengan mengutip bahasa hadist nabi, kedua perjalanan dimensional tadi tidak lain adalah perjalanan untuk membangun hubungan atau ikatan yang kuat dengan Tuhan, hablum minallah, dan membangun hubungan dan ikatan yang kuat pula dengan manusia, hablum minna nas. Kedua dimensi ini merupakan syarat bagi suksesnya kehidupan manusia, di dunia ini maupun nanti di akhirat. Jadi, jika digambarkan dalam sebuah bagan, perjalanan inner dan outer tadi akan tampak seperti pada bagan di bawah.

Untuk terjadinya perubahan secara efektif pada kedua dimensi tadi, maka dibutuhkan berbagai moda pembelajaran yang sesuai. Ini bisa dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai moda yang tersedia sedemikian rupa, sehingga diperoleh efek pembelajaran yang sinergis dan integratif atau holistik serta transformatif terhadap keperibadian individu. Kita akan membahas berbagai moda pembelajaran ini pada artikel selanjutnya.

Tuesday, February 15, 2011

ILMU (SCIENCE), PRAKTEK ( PRACTICES), DAN KEARIFAN (WISDOM)

Sanerya Hendrawan


Ilmu punya makna yang lebih kaya dalam perspektif Islam, jika dibandingkan dengan science dalam perspektif Barat. Ilmu berasal dari istilah Arab, ‘ilm, memiliki makna cakupan teori, aksi atau tindakan, dan pendidikan. Substansi ‘ilm bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga gnosis (ma’rifah); yakni pemahaman tentang kebenaran terakhir, ultimate truth, yang dalam bahasa Arab disebut al-haqq. Allah adalah al-Haqq. Dari sini bisa dimengerti, dalam perspektif Islam tidak ada pemisahan antara ilmu pengetahuan tentang dunia gaib yang internal (alam al-ghaib, noumenal) seperti Tuhan (theology) dan ilmu-ilmu tentang dunia fenomenal seperti ilmu alam atau ilmu sosial (alam as-sahadah) yang empiris dam eksternal. Ilmu diperoleh lewat kerja intelek atau akal (‘aql). Karena terkait dengan kebenaran terakhir ini, al-Haqq, maka ilmu (knowledge) bukan sekedar informasi, tetapi juga membawa konsekwensi moral dan etis. Yakni menuntut pemilik ilmu untuk bertindak sesuai dengan kebenaran yang telah diyakininya. Secara spesifik ini diterjemahkan ke dalam komitmen pada aturan-aturan Islam dalam al-Quran dan as-Sunnah, yang keduanya ini merupakan perwujudan dari kehendak al-Haqq tadi. 


Terkait dengan keyakinan ini dikenal tiga tingkatan: ‘ilm al-yaqin (certain knowledge, pengetahuan yang pasti), ‘ayn al-yaqin (knowledge by sight – pengetahuan dengan mata kepala sendiri), dan haqq al-yaqin (knowledge by the unity of subject and object, pengetahuan dengan merasakan langsung). Untuk membedakan derajat tingkat yang ketiga dari yang kedua dan pertama, analogi yang dipakai adalah pengetahuan tentang api (tingkat pertama), melihat api (tingkat kedua), dan merasakan atau terbakar oleh api (tingkat ketiga). Dari analogi ini terasa sekali perbedaan masing-masing tingkat pengetahuan tadi.


Dalam pengertian umum al-‘ilm juga sinonim dengan an-nuur, cahaya (light). Dalam ayat-ayat al-Quran, Allah (Tuhan) disebut juga an-nuur. Allah adalah sumber cahaya pertama, dari-Nya terlimpahkan cahaya kepada langit dan bumi dengan segenap ciptaan-Nya. Dari sini kemudian dikatakan bahwa ilmu, atau penemuan ilmiah, adalah Cahaya yang Allah limpahkan kepada hati atau jiwa hamba-hamba yang dikehendakinya (flash of intuition, kashf, unveiling).  Untuk bisa mendapatkan cahaya Ilahi ini (an-nuur atau al-ilm, al-ma’rifah), maka pencari ilmu mesti membersihkan berbagai penghalang pancaran cahaya ini. Karena semua penghalang ini lebih merupakan penyakit hati (kufr, fasiq), maka diperlukan pensucian diri yang disebut tazkiyatun nafs. Dengan demikian dalam upaya memperoleh ilmu ini, ma-rifah atau gnosis, maka pengamatan (observation), proses analisis, dan penyimpulan (scientific method) berlangsung simultan dengan pensucian diri (shalat, puasa, meditasi sufistik). Metoda yang terakhir ini melahirkan knowledge by intuition. Pengetahuan di mana makna-makna datang sendiri ke dalam jiwa (a flash of intuition, kashf, al-ilm al-husuli)). Sedangkan metoda ilmiah melahirkan knowledge by observation. Jiwa yang datang kepada makna-makna tertentu (al-ilm al-huduri). Kesimpulannya, al-ilm (knowledge) menjadi integral dalam perspektif islam, memadukan rasionalitas (pikiran) dan intuisi (hati).


Dalam perspektif Islam, seluruh pengetahuan adalah proses untuk sampai pada pengenalan diri (self, nafs, soul) melalui pengembangan dan penghalusan kekuatan inner-nya (intelect, qalb). Aksioma lama “Know  thyself” dirumuskan dalam sebuah pernyataan Ali bin Abi Thalib, “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu”, Dia yang mengenal dirinya (self), mengenal Tuhannya. Ini dicapai manakala, jiwa atau lebih tepatnya intelek aktual (aql bi’l-fi’l) (self) telah menyempurnakan kekuatan teoritis dan praktis (theoretical and practical intelect, vision and virtue, theory and praxis).


Ada dua kemungkinan terkait dengan posisi manusia terhadap ilmu pengetahuan ini. Pertama adalah mengikuti kebenaran atau pendapat orang lain (taqlid). Kedua adalah menemukan kebenaran sendiri (tahqiq). Posisi yang pertama, karena lebih bersifat meniru atau mengikuti otoritas tertentu, menghasil jenis pengetahuan knowledge by transmission. Yang kedua, karena dilukan melalui verifikasi dan realisasi, menghasilkan apa yang disebut knowledge by intelection. Karena setiap manusia memiliki kapasitas bawaan untuk berpikir dan merefleksi tentang Tuhan dan semua ciptaan-Nya, maka dalam perspektif Islam setiap orang mesti mengembangkan knowledge by intelection. Ini terlebih lagi dalam masalah keimanan. Keimanan tidak bisa dimaknai kepercayaan (belief). Tetapi lebih tepat sebagai keyakinan (conviction). Keyakinan punya makna ketiadaan keraguan atau ketidakpastian (doubt, uncertainty). Sebaliknya, kepercayaan mengandung makna keraguan, kebenaran yang harus diterima begitu saja, tanpa perlu pembuktian dan pengujian kritis akal pikiran. Karena itu kemudian, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tauhid) lebih tepat dilihat sebagai knowledge by intelection. Artinya, sudah dibuktikan dan direalisasikan oleh diri sendiri (self) hingga kemudian seseorang sampai pada tingkat pengetahuan  haqq al-yaqin. 


Dalam hubungan ini bisa dipahami, jika kemudian dalam perspektif islam tahqiq (knowledge by intelection) tidak hanya berarti memahami kebenaran, ketepatan, kepantasan sesuatu, tetapi juga merespon kepada kebenaran tersebut secara benar dengan cara menenpatkan diri (self) pada tuntutan dari kebenaran tersebut atas jiwa (soul, nafs), baik itu dalam bentuk pikiran, perasaan, sikap, ataupun perilaku. Dengan demikian terlihat bahwa dalam persktif Islam, keyakinan (al-iman), ilmu (al-ilm), perbuatan, aktivitas, atau praksis (al-aml) menjadi satu kesatuan yang utuh, integral.


Visi yang integral semacam itu terlihat pula di dalam masalah eksplorasi dan pemahaman yang dihasilkannya. Intelektualitas islami menyatukan pemahaman  atas alam semesta (phisic, natural sciences, cosmology) dengan pemahaman atas jiwa, self (spiritual psychology). Keduanya saling melengkapi dan berhubungan. Hakekat yang sebenarnya tentang jiwa manusia (self) hanya akan bisa dipahami dengan mengenali secara benar alam semesta (cosmos). Karena alam semesta adalah fenomena penampakan Nama-Nama Tuhan (teofani), persis sebagaimana manusia tercipta dengan Citra Tuhan (imago dei). Manusia dan jiwanya adalah mikro kosmos sementara alam semesta makro kosmos. Yang satu tercerminkan pada yang lain.


Pentingnya hubungan antara alam semesta (cosmos) dan jiwa (self) tampak jelas dalam ungkapan al-mabda’ wa’l-ma’ad (The Origin and The Return), yang menjadi titel buku Ibnu Sina dan Mulla Sadra. Manusia berasal dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan (inna lillahi wa ina ilaihi rojiun). Kembali jiwa manusia kepada Tuhan secara sukarela (ascent, mi’raj) adalah kesempurnaan yang sejati. Ini membutuhkan pemahaman dan orientasi yang benar terhadap tabiat alam semesta. Menjadi jelas di sini, studi tentang alam nyata dan pengetahuan yang dihasilkannya menyiapkan dasar bagi penyempurnaan manusia. Dan kesempurnaan hanya bisa dicapai dengan ‘kembali kepada Tuhan’, al ma’ad, membawa kembali diri (self) ke dalam harmoni dengan tabiat yang sebenarnya dari segala sesuatu (Tuhan).


Karena itulah di dalam epistemologi Islam, seluruh kegiatan berpikir harus ditata dan disusun supaya dimulai dan diakhiri dengan Realitas Tertinggi atau Terahir ini, The Supreme Reality. Setiap momen pikiran harus dipertahankan dengan kesadaran tentang Supreme Reality. Melupakannya berarti terputus dan terjatuh ke dalam illusion dan unreality. Ini berarti pemahaman ataupun pengertian sesuatu sebagaimana apa adanya hanya diperoleh ketika ada kesadaran tentang sesuatu itu dalam hubungannya dengan sang Pencipta (Allah) yang menjaga dan memeliharanya setiap saat. Dengan kata lain pikiran yang benar adalah melihat segala sesuatu dalam hubungannya dengan Tuhan.
Dengan menempatkannya dalam kerangka perspektif semacam itu, maka pembelajaran (learning) menghasilkan perubahan yang mendalam pada jiwa (self) serta transformasi spiritual yang semakin selaras (harmony), menyatu secara menyeluruh (unity, integrated-holistic) dengan segala sesuatu (Tuhan). Harmoni dan unifikasi antara mengetahui (knowledge) dan mengada (being). Pembelajaran menjadi sebuah proses pencarian hikmah (wisdom), bukan sekedar perolehan ilmu pengetahuan (science). Di mana hikmah mengimplikasikan pikiran yang benar dan tindakan atau kegiatan yang benar, mencakup penyempurnaan intelektual dan penyempurnaan moral. Dengan kata lain, semua itu menghasilkan perubahan manusia yang dalam ungkapan para filsuf islam dan sufi seperti Ibu Sina (Avecina) dan Mulla Sadra dikatakan menjadi “what is possible for human beings to become”, atau meraih status al-insan al-kamil dalam tulisan al-Farabi, manusia sempurna yang merefleksikan Sifat-Sifat Allah, al-asma al-husna (imago dei), manusia seutuhnya, manusia yang berkarakter atau berakhlak Allah (takhalluq bi akhlaq Allah).

Wednesday, November 3, 2010

PERILAKU: REFLEKSI KEMAMPUAN MERESPON SITUASI

Sanerya Hendrawan


Satu konsep menarik dari quantum learning yang relevan digunakan untuk menjelaskan perilaku islami adalah apa yang disebut “living above or below the line”. Yang dimaksud dengan “garis” kehidupan di bawah atau di atas pada konsep tersebut merujuk pada tingkat tanggung jawab (responsibility) kita sebagai manusia dalam mengelola kehidupan ini. Ibarat horizon yang menjadi batas antara bumi dan langit, “garis” di sini mengartikan kekuatan dari karakter manusia. Sadar ataupun tidak, setiap orang memilih hidup satu diantara dua tempat tersebut; apakah ‘di bawah atau di atas garis’.


Istilah responsibility di atas sebetulnya tersusun dari dua kata respon-ability. Jadi mengandung arti, kemampuan kita untuk merespons atas situasi-situasi kehidupan yang dihadapi. Apakah kita proaktif, misalnya; mengambil kendali atas pilihan-pilihan kita, sehingga kita mengendalikan hasil-hasilnya. Atau malah sebaliknya reaktif, membiarkan orang lain atau lingkungan mengendalikan kita, sehingga kita menyalahkan atau menolak ketika gagal atau mendapatkan situasi buruk. Dalam kondisi semacam ini, pernyataan tipikal orang yang hidup below the line adalah "I have no control over my life - outside circumstances control my life. Dus, orang semacam ini sebetulnya “tidak memiliki diri sendiri”. Dengan kata lain mengalami victim mentality, merasa jadi korban orang lain atau lingkungan.


Perspektif Islam justru mendorong perilaku living above the line. Banyak ayat al-Quran yang bicara perlunya perilaku hidup yang proaktif, inisiatif, mengambil pilihan secara sadar, percaya pada kekuatan diri untuk membentuk kehidupan sendiri, tentu yang sesuai pula dengan keinginan kita. Dengan kata lain perlunya mengembangkan success mentality dalam seluruh perilaku kehidupan kita. Simaklah pernyataan pada Surat an-Najm 39: wa allaisa lil insaani illa maa sa’aa, yang maknanya; dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Kemudian pada surat Al Mumin 17 “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. Kedua ayat tersebut menegaskan, apa yang terjadi pada kita, baik atau buruk, adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Tidak bisa menyalahkan orang lain. Semuanya adalah akibat pilihan dan usaha kita sendiri.


Jadi dalam perspektif Islam, pernyataan semacam “saya tidak punya kendali atas kehidupan saya” – “orang lain menentukan kita" adalah sebuah kebohongan besar. Karena sejatinya, sekalipun keadaan di luar mempengaruhi kita, namun itu tidak harus mengendalikan kita. Kitalah yang menentukan, apakah membiarkannya  mengendalikan kita atau tidak. Singkat kata,  kita bisa memilih dengan sadar dan menentukan respon-respon kita sendiri. Sesungguhnya Tuhan telah melengkapi manusia dengan berbagai fakultas yang mendukung kebebasan memilih secara cerdas. Pada diri manusia ada ‘akal’ yang mampu memahami kebenaran, ‘kesadaran’ atas situasi dan tanggung jawab kehidupannya, dan ‘kehendak’ untuk meraih kebaikan ataupan kebahagiaan. Kemudian dari luar, disempurnakan dengan ‘petunjuk wahyu’ al-Quran dan contoh kehidupan Rasulullah Muhammad saw (as-Sunnah), yang mengatasi keterbatasan inherent pada akal untuk memahami hakekat konsepsi kehidupan manusia yang benar, baik, dan indah dalam semesta realitas. Jadi, lengkaplah sebetulnya peralatan yang diperlukan manusia untuk memilih dan mengambil respon perilaku kehidupan yang benar.


Living above the line menuntut pengembangan kemampuan merespon (respon-ability) setiap individu atas setiap tantangan kehidupannya. Ini berarti perlunya pendidikan yang mengasah dan mengembangkan akal cerdas dan sehat, menyadarkan manusia kepada misi dan tugas-tugas kehidupannya yang hakiki sebagai hamba (abd) dan pemimpin (khalifah) di muka bumi ini, dan membangkitkan kehendak atau motivasinya pada cita-cita yang luhur meninggikan kalimat tauhid (islam). Dengan kata lain perlunya pendidikan holistik, yang secara integral memadukan iman dan takwa (IMTAK) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK),  sebagaimana yang telah kita bahas pada bagian lain. Penguasaan IMTAK-IPTEK adalah syarat bagi sempurnanya usaha atau ikhtiar manusia di dunia maupun pertanggungan jawabnya kelak (responsibility) kepada Tuhan-Nya di yaumil akhir.



Pola Hidup Above the line


Jadi dalam perspektif Islam, “hidup di atas garis” menyiratkan perilaku manusia yang mampu merespon atas tuntutan dari tanggung jawabnya sebagai hamba (abd) dan sekaligus sebagai pemimpin (khalifah). Tidak ada makna lain dari “batas” garis atas dan bawah ini selain keimanan.  Sebagai hamba berarti manusia mesti menghadapkan diri sepenuh hati kepada-Nya, patuh dan teguh pada ketentuan-Nya, bergegas kepada seruan-Nya, bersemangat memenuhi segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-nya, disertai rasa cinta kepada-Nya. Dengan kata lain perlu beriman dan bertakwa (IMTAK). Sedangkan sebagai pemimpin, manusia dipilih Tuhan dengan mandat untuk mewakili-Nya dalam memelihara dan mengembangan bumi, dengan seluruh ciptaan di dalamnya, sebagai tempat kehidupan yang baik dan sejahtera (al-hayatun thoyibah). Ini berarti manusia harus menggali, melalui ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sumber daya yang terkandung dalam seluruh ciptaan-Nya. Yakni berupa kemanfaatan dan kemaslahatan yang dimiliki oleh setiap ciptaan, yang sejatinya telah dipersiapkan Tuhan untuk memberi kemaslahatan kepada manusia sesuai dengan kebutuhan dan potensinya masing-masing.


Peran manusia sebagai ‘slave’ yang simultan dengan ‘master’ tadi memang unik. Membutuhkan kesetimbangan di dalam realisasinya. Beruntung, karena dalam perspektif Islam kita menemukan figur ideal yang memadukan kedua peran tadi secara seimbang dengan sempurna dalam pribadi Rasulullah Muhammad saw. Perannya bukan saja sekedar pemimpin umat, tetapi juga seorang hamba Allah yang menikah, punya anak dan cucu, berdagang, menderita dalam kemiskinan dan tekanan pihak lain lalu berjuang bersama manusia lain, dan memperoleh kemenangan, tentu dengan pertolongan Tuhan, dan menjadi penguasa. Pendek kata sarat dengan pengalaman-pengalaman besar yang lazim dihadapi manusia di dunia ini. Jadi bagi manusia lain, yang bermaksud menyempurnakan kemanusiannya, tinggal mengikuti saja suri teladan manusia sempurna ini (al-insan al-kamil), Rasulullah Muhamad saw.


Kita juga bisa merasakan nuansa perilaku hidup above the line sebagai refleksi seorang hamba dan pemimpin dari Surat Al-Furqon 63-76. Di sana disebutkan sembilan perilaku yang ditampilkan oleh ‘‘ibaadurrohmani”, hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang:

  1. Rendah hati dalam menjalani kehidupannya dan senantiasa membawa keselamatan kepada lingkungannya
  2. Bersujud dan berdiri untuk Tuhan-Nya di malam hari. Jadi senantiasa dilaluinya dengan mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Senantiasa berdoa memohon keselamatan
  4. Moderat di dalam pembelajaannya. Jadi tidak boros, tidak juga kikir.
  5. Mengesakan Tuhan (tauhid), menjaga kehidupan orang lain, dan memelihara kesucian diri dari perbuatan keji
  6. Senantiasa mohon ampunan dan kembali kepada Tuhan-Nya serta melakukan amal saleh
  7. Jujur, senantiasa produktif, dan menjaga kehormatan diri dari perbuatan tidak bermanfaat
  8. Peka dan responsif terhadap ayat-ayat Tuhan
  9. Berdoa memohon keluarga yang saleh dan jadi ikutan serta pemimpin orang-orang yang takwa

Jelas sekali, perilaku manusia yang hidup “di atas garis” menunjukan mentalitas berkelimpahan (abundance mentality). Sehingga dirinya senantiasa menyejukan lingkungan dan sesamanya serta lapang dada, bersih dan tenang, mantap dalam keyakinan, adil, tulus dan terhormat, produktif, peka dan peduli terhadap sekelilingnya, mengakui kesalahan dan segera mengkoreksinya, membangun komunitas yang saleh dan memberi contoh terbaik kepada orang lain, dan menjadi pemimpin orang-orang pilihan. Semuanya ini tidak lain adalah perilaku manusia unggulan, par exellence.

Friday, October 1, 2010

PROSES PEMBELAJARAN HOLISTIK

Sanerya Hendrawan

Proses pembelajaran berperan penting dalam pembentukan keperibadian islami. Di dalam proses pembelajaran terjadi perubahan pikiran, sikap, ataupun perilaku. Perubahan ini mencakup, baik perolehan (acquisition) hal-hal baru maupun penanggalan hal-hal lama (dequisition). Jadi perubahan ini sebetulnya mengandung makna learning maupun unlearning. Khas dalam perspektif Islam, perubahan ini berlangsung sebagai sebuah proses penyempurnaan intelektualitas (intelectual perfection) dan moralitas (moral perfection) secara simultan. Karena itu sifat pembelajarannya juga holistik. Menyatukan keragaman realitas ke dalam kesatuan yang berporos kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta dan Pemelihara Alam (Rabb)  dan karena itu satu-satunya yang punya hak untuk diibadahi ataupun disembah (Illah). Ini sesungguhnya tidak lain adalah konsekwensi dari prinsip  tauhid  dalam ajaran Islam.

Berbeda dari paradigma Barat, proses pembelajaran dalam Islam pada dasarnya menyatukan pengamatan, perenungan, dan analisis mendalam (reasoning, deep thinking), selanjutnya disebut pikir, dengan konsentrasi, meditasi, dan intuisi, selanjutnya disebut dzikir. Idealisasi dari hasil penyatuan kedua pembelajaran ini adalah pembelajar yang berhasil menemukan dan memahami Perbuatan Tuhan dengan segala Sifat-Nya Yang Maha Sempurna dari fenomena alam ataupun sosial yang dipersepsinya. Al-Quran sendiri dalam Surat Ali ‘Imran 190-191 menggambarkan idealisasi ini dengan kalimat:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau yang duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Jadi jelas, proses pembelajaran yang mengkombinasikan pikir dan dzikir membuahkan kesadaran pada penciptaan yang bertujuan, kecilnya manusia dalam semesta ciptaan, rasa takut atas pertanggung jawaban, penghambaan, dan penguatan iman kepada Tuhan. Dengan kata lain, Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan dari pengamatan dan rekayasa ini  (IPTEK) bersinergi dengan keimanan dan ketakwaan (IMTAK). Keduanya menjadi pilar utama di mana kepemimpinan di bumi (khalifatul ard) dan penghambaan kepada Tuhan (ibadah) bisa ditegakan dengan benar.

            Di dalam proses pembelajaran ini, pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) mesti jadi disiplin yang menyertai keseharian pembelajar. Karena bagaimana mungkin pembelajar bisa menangkap pengetahuan ilahi yang suci (ma’rifatulah, gnosis, scientia sacra), sementara jiwanya sendiri masih terkotori keburukan dan kelalaian. Pengetahuan ilahi hanya bisa ditangkap oleh hati yang bersih. Hati semacam ini ibarat sebuah cermin mengkilat hingga mampu menangkap dan memantulkan obyek dengan sempurna.

            Pentingnya tazkiyatun nafs sebagai langkah untuk memperoleh pengetahuan mesti dilihat dalam kerangka dua jenis pengetahuan yang sudah diakui keabsahannya dalam Tradisi Islam dan mesti dikuasai oleh setiap pembelajar untuk bisa sukses dalam kehidupannya. Yakni pengetahuan berdasarkan panca indera (al-ilm al-husuli atau knowledge by sense) dan pengetahuan berdasarkan intuisi (al-ilm al-huduri atau knowledge by presence). Yang pertama mengandalkan pada penginderaan luar sebagai pencerap informasi obyek-obyek fisik (ad-dzahir). Sedangkan yang kedua menggunakan kekuatan dan kepekaan rasa serta ketajaman mata hati (eye of the heart) untuk menangkap hakekat obyek atau realitas (al-bathin). Upaya mendapatkan pengetahuan jenis pertama membutuhkan penggunaan pikiran diskursif,  rationalistik, dan silogistik, sementara pengetahuan jenis kedua membutuhkan pendekatan simbolis, intuitif.

            Di dalam tradisi Islam pembelajaran adalah proses meraih pengetahuan suci (scientia sacra), karena itu berlangsung melalui tiga langkah penting: syariah, tariqoh, ma’rifah. Pertama syariah adalah mengetahui kehendak Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya (karena itu disebut muslim). Kedua tariqah adalah mengikuti jalan kehendak-Nya ini bersama-sama muslim lain, yang membentuk kelompok pembelajaran yang  saling mengingatkan  dan menganjurkan kebaikan serta melarang keburukan (community of practices). Kemudian ketiga ma’rifah adalah tercapainya pengetahuan dan pengertian murni, di mana seluruh keberadaanya telah diserahkan kepada Tuhan, sebagaimana juga alam ini yang telah tunduk sepenuhnya terlebih dulu kepada-Nya (Islam). Karena itu pada tahap ini pembelajar telah menyatukan dirinya dengan alam. Sehingga ia mampu memahaminya “dari dalam”. Dirinya menjadi saluran rahmat bagi semesta.

            Dengan langkah semacam itu, proses pembelajaran membentuk manusia yang mampu memadukan tiga tema universal yang telah disebut oleh Plato: kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Kebenaran adalah pengetahuan yang Haq. Kebaikan adalah realisasi yang Haq. Keindahan adalah cahaya dan ungkapan  yang Haq. Ketiganya tidak bisa dilepaskan dari yang lain, tapi sebagai satu kesatuan yang utuh yang membentuk kehidupan manusia sempurna (al-insan a-kamil). Singkat kata, pembelajaran harus menghasilkan pribadi-pribadi yang mencintai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Tuesday, September 21, 2010

FASE PERKEMBANGAN KEPERIBADIAN MANUSIA: PERJALANAN DARI DAN MENUJU PENCIPTA-NYA

Sanerya Hendrawan

Dalam perspektif Islam keperibadian manusia terbentuk jauh sebelum terlahir ke dunia ini. Pertama ada satu fase ketika manusia masih berbentuk ruh di alam primordial. Di mana diri noumenal (Self) mengakui keberadaan Tuhan (teistik). Ateis karena itu tidak dikenal di dalam perspektif Islam. Karena jelas-jelas menyangkal inti diri sendiri. Manusia yang menganggap dirinya ateis sesungguhnya telah membuat dirinya teralienasi, terasing dari dirinya sendiri (Self). Sehingga tidak akan mampu mengembangkan keperibadiannya secara benar dan sehat.
Dalam perspektif Islam dikenal pernyataan “siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”. Maka dapat dikatakan pula, siapa yang tidak kenal (menolak keberadaan) Tuhannya, maka dia juga terasing dari dirinya (alienasi). Ini berarti ada korelasi antara inti keperibadian manusia (Self) dengan Tuhan. Menolak yang satu berarti menolak yang lain. Atau yang satu menjadi dasar untuk memahami yang lain.
Diri pada fase tersebut bisa disebut diri fitrah atau primordial (primordial self). Karena unsur materi (badan jasmani) belum ada, maka diri primordial tabiatnya adalah teistik, lurus dan cenderung pada kebaikan (hanif), serta pada posisi berserah diri (Islam). Karena itu Islam disebut pula agama primordial (ad-diin al-fitrah). Keyakinan (aqidah) dan seluruh aturannya (syariat), kalau dipegang teguh dan dipraktekan dengan benar akan mengembalikan kepada keadaan asal atau primordial ini.
Selanjutnya masuk pada fase kedua, ketika embrio terbentuk di dalam rahim dan ruh ini ditiupkan langsung oleh Tuhan kedalam embrio tubuh manusia tersebut yang telah berumur 40 hari. Drama peniupan ruh ini dinyatakan oleh kalimat al-Quran sendiri dengan “... wa nafakhtu fihi min ruhi...” (... dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku;...). Maka pada momen ini Cahaya Ketuhanan masuk kedalam tubuh materi. Eksistensi manusia menjadi sesuatu yang lain sama sekali. Kini, manusia memiliki berbagai kapasitas yang termasuk ke dalam realitas transendental, yang menjadi sumber kesadaran (consciousness), pikiran (cognition), pengetahuan (knowledge), intuisi (suara hati), maupun kekuatan berpikir dan rasionalitas. Pada fase ini sel-sel pembangun embrio dan tubuh bayi manusia sempurna membawa kode-kode genetika (DNA) yang dituliskan Tuhan berbeda untuk setiap individu. Nanti, khususnya setelah terlahirkan dari rahim ibu, bersama-sama faktor lain (lingkungan), kode-kode ini akan membentuk proses individuasi yang khas untuk setiap orang.
Fase ketiga adalah manusia yang terlahir ke dunia dengan membawa kecenderungan fitrah dan berbagai potensialitas yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan lewat interaksinya dengan faktor-faktor lingkungan. Di sini faktor tabiat (nature) berinteraksi dengan pengasuhan lingkungan (nurture). Kombinasi dari pengaruh akal, hati, dan bimbingan petunjuk serta hukum-hukum agama (syariat) di satu pihak; dan pengaruh lingkungan di lain pihak (lewat proses sosialisasi dan akulturasi) sangat menentukan perkembangan kualitas keperibadian pada fase ini.
Pada fase ini manusia harus meraih kualitas keperibadian sempurna (al insan al-kamil). Yang gambaran nyatanya ada pada diri Rasulullah Muhammad saw. Semua kualitas luhur dari keperibadian manusia yang bisa diraih dalam batas-batas kemanusiaan manusia terkumpul secara kompak dan harmonis dalam pribadi Muhammad saw. Insan kamil tidak lain adalah gambaran manusia homo dei. Yakni manusia yang mampu mengembangkan kehidupan dunia sesuai dengan tujuan penciptaannya. Yaitu pemimpin, pengganti, atau wakil Tuhan di muka bumi (khalifatul ard).
Fase keempat adalah keperibadian yang sudah tercetak oleh kehidupan dunia (jiwa atau soul) yang kembali ke asalnya (Tuhan). Lewat kematian yang memisahkan jiwa dari badan materi dan masuk ke dalam penantian di alam barzah hingga hari kiamat. Lalu jiwa ini dibangkitkan kembali lengkap dengan badan jasmani serta mendapatkan tempat dan bentuk nyatanya di sana yang sesuai dengan kualitas keperibadian yang berhasil dikembangkannya dalam kehidupan dunia. 

Friday, September 17, 2010

KEPERIBADIAN ISLAMI SEBAGAI TUJUAN PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN MANUSIA

Sanerya Hendrawan

    Dalam perspektif Islam, pendidikan dan pengembangan manusia memiliki tujuan yang holistik, integral, dan fungsional sekaligus. Ini sejalan dengan konsepnya tentang manusia yang juga holistik, sebagaimana sudah dikemukakan pada bab sebelum ini. Mencakup pengembangan ruh dan spiritualitas; jasmani dan jiwa (nafs); kesadaran dan keperibadian, ilmu dan amal; keyakinan (iman) dan moralitas serta karakter (akhlaq); intelegensi (aql) dan emosi serta hati (qalb). Semua aspek tersebut perlu dibangun secara simultan untuk terbentuknya manusia sempurna atau seutuhnya, yang telah disebutkan pada bab sebelumnya dengan istilah al-insan al-kamil.

    Dengan konsepsi insan kamil tersebut, maka sebetulnya tujuan pendidikan adalah terbentuknya pribadi-pribadi yang mampu menyerahkan dirinya dengan sukacita kepada kehendak Allah (islam), yang secara efektif mampu berkiprah membangun dunia ini sebagai penghambaannya kepada Allah (abd) dan merealisasikan misinya sebagai pemimpin terpercaya di bumi (khalifah). Jadi, tujuan pendidikan jauh dari sekedar transfer pengetahuan, pengalaman, ataupun sikap dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Apalagi, jauh dari yang hanya berorientasi pada kepentingan pasar, ataupun sekedar kepentingan dunia (popularitas, kekayaan, kekuasaan), sebagaimana banyak yang mempersepsinya dewasa ini sebagai hasil sistem pendidikan Barat.

Dalam perspektif Islam, pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan manusia dalam segala aspeknya tadi, serta mendorongnya ke arah puncak kebaikan dan kesempurnaan. Sehingga tujuan akhirnya adalah perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, yang tidak lain adalah makna sejati dari Islam itu sendiri. Dengan demikian, terbentuknya keperibadian yang islami adalah tujuan akhir dari pendidikan dan pengembangan manusia.
Dalam keperibadian islami terintegrasi secara kompak berbagai unsur penting yang memfungsikan manusia dalam kehidupannya sebagai hamba (abd) dan sekaligus pemimpin (khalifah). Diantaranya mencakup hikmah, ilmu, keyakinan dan nilai, akhlak atau karakter. Unsur-unsur tersebut dibentuk oleh pengolahan akal dan pengendalian emosi serta pengarahannya, pengembangan imajinasi, maupun menata kekuatan kehendak dan motivasi. Dilihat dari sudut ini, pendidikan adalah proses membangun unsur-unsur tersebut serta melatih faktor-faktor pembentuknya tadi. Lewat proses pendidikan ini manusia disiapkan untuk meraih; bukan sekedar kebaikan atau kebahagiaan di dunia saja. Tetapi juga kebaikan dan kebahagian di alam sesudah kematian (akhirat).

Karena itu lingkup ilmu pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai pun bersifat holistik. Mencakup ilmu pengetahuan fungsional kealaman dan sosial kemanusiaan (semacam teknik permesinan atau marketing), dan pengetahuan tentang Tuhan (gnosis atau ma’rifat), tata cara menghambakan diri kepada Tuhan (ibadah), serta moral, sikap, dan tingkah laku manusia (akhlaq).

Jadi jelas, di sini tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu non-agama, sebagaimana dipersepsi dalam Peradaban Barat yang sekuler. Apa yang dikenal dengan hukum-hukum kehidupan alam dan manusia, yang dipelajari oleh ilmu-ilmu alam dan sosial sekarang ini, sejatinya adalah tanda-tanda atau ayat-ayat Allah juga, yang seharusnya mendetakan kekaguman manusia kepada kebesaran pencipta-Nya dan karena itu mesti mendorongnya untuk menundukan diri kepada-Nya dengan suka cita.
Dalam tradisi keilmuan Islam, itu merupakan bagian dari ta-limul ayat. Sasarannya adalah menciptakan manusia yang dalam Surat Ali Imran 191-193 disebut dengan kualifikasi ulul albab. Manusia yang mampu mengembangkan kualitas pikir dan dzikir (mengingat Allah) sekaligus. Manusia yang mampu mentransformasi alam dan juga mentransformasi dirinya (Self). Tapi untuk mencapai kualifikasi ini diperlukan juga ta’limul kitab wal hikmah, yaitu pengenalan wahyu dan hikmah kenabian, serta tazkiyatun nafs (pensucian jiwa lewat berbagai praktek ibadah yang terdisiplin).

Dengan demikian dalam proses pendidikan yang bertujuan menciptakan manusia seutuhnya atau manusia sempurna (insan kamil), maka mesti berlangsung tiga hal secara simultan. Pertama adalah mempelajari fenomena alam dan sosial sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan (ta’limul ayat). Kedua, mempelajari al-quran dan sunnah rasul (ta’limul kitab wal hikmah). Ketiga,  membersihkan jiwa supaya bisa menerima dengan mudah ilmu dan hikmah (tazkiyatun nafs).


Karakter Profetik Sebagai Keperibadian Islami

    Lalu sesungguhnya apa yang membedakan keperibadian Islami dari yang non-islami, yang sudah disebutkan di atas menjadi tujuan dari pendidikan? Tidak ada satu kata kunci yang paling pas yang membedakannya selain karakter moral. Karakter yang mengambil contoh terbaiknya dari keperibadian Nabi Muhammad Saw. Karena itu pula, sejatinya keperibadian islami bersifat profetik. Keperibadian ini menghadirkan kesadaran tentang Tuhan (tauhid) ke dalam setiap momen kehidupan. Kehidupan yang senatiasa terisi dengan keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” .

    Jadi, keperibadian islami bermuara pada karakter moral yang tinggi. Mencakup keyakinan, trait, atribut, perilaku, sopan santun, dan adab-adab. Semua ini mengena pada setiap aspek kehidupan antar pribadi yang meliputi hubungan antar manusia, manusia dan Tuhan, individu dan keluarga, individu dan masyarakat dan lingkungan alam. Muhammad Al-Ghazali dalam buku Muslim’s Characters (1996), misalnya, mendeskripsikan lebih spesifik keperibadian islami ke dalam beberapa katagori: benar, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, tulus, beretiket, hati bersih dari rasa benci, kuat, toleran dan pemaaf, dermawan, sabar, moderat, suci, bersaudara, menata waktu, baik hati, pembelajar dan intelek. Semua karakter ini mesti termanifestasikan dalam tindakan, pikiran, ataupun perkataan sehingga keperibadian menjadi integral atau utuh.

Keperibadian islami dibentuk oleh penegakan praktek-praktek ibadah Islami yang membutuhkan aksi dan cara hidup yang terfokus secara terus menerus pada penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah. Karena itu keperibadian ini bukan sekedar identitas yang pasif. Tetapi aktif, dengan memanifestasi dalam setiap tindakan yang dilakukan manusia. Upaya menyerahkan diri ini membutuhkan suatu perjuangan untuk menyeimbangkan berbagai kekuatan diri (Self) serta mengendalikan berbagai hasrat animalistik sampai akhirnya terbentuk suatu keadaan yang harmonis, yang sudah disebutkan sebelum ini dengan istilah an-nafs muthmainah (jiwa yang tenang).

Karakter moral mengumpulkan seluruh kebaikan yang menyempurnakan manusia yang juga secara simultan mendekatkannya kepada Tuhan. Karena itu karakter moral ini bukan sekedar salah satu tujuan dalam kehidupan seorang muslim, tetapi juga tujuan dari kehidupan itu sendiri. Dalam konteks ini salah satu hadist nabi menyebutkan bahwa “muslim yang yang memiliki keimanan yang sempurna adalah muslim yang paling baik akhlaknya (moral)”. Ketika Rasulullah ditanya “apa yang terbaik diberikan kepada manusia?”,  maka Rasul menjawab  akhlak yang baik”.

Keperibadian Islami yang ideal sesungguhnya adalah personifikasi dari ajaran al-Quran. Ini sejalan dengan salah satu hadist nabi yang diriwayatkan oleh salah seorang istri nabi, Aisyah. Muhammad Saw telah berhasil mempersonifikasikan al-Quran ini. Sehingga pada keperibadiannya telah teraktualisasikan Nama-Nama Tuhan. Karena itu pula Al-Ghazali menggelarinya ‘manusia Tuhan” (godly man), dengan ciri-cirinya yang ia sebutkan sebagai berikut:

“The godly man is wise, courageous and temperate in the noblest sense of the words, and in the highest degree. He engages in worship, prayers, fasting, alms-giving, and similar acts, but his duties to God do not exclude his duties to family, relatives, friends, neighbors, slaves, subjects and society as a whole. He must earn his livelihood by strictly honest means. He must cultivate the best manners for all occasions, namely, he should know how to carry himself best at the table, in society, while traveling, and at the gathering of godly people and avoid causing the slightest pain to his fellowmen on any account. The Prophet should be his ideal and his inspiration all through his life. Lastly, his duty is not only to reform and perfect all the aspects of his life but to reform his fellowmen as well. And the motive force behind a perfect life is nothing other than the love and fear of God.”
   
Dari paparan tersebut, aspek utama keperibadian islami adalah dedikasi kepada Allah dan agama-Nya (Islam). Karena moral karakter adalah inti dari keperibadian Islam, maka secara alami ketaatan dan pengabdian kepada Allah dan  penyembahan manusia kepada-Nya mesti memainkan peran penting dalam kehidupan. Ini penting untuk tujuan membangun rasa takut dan cinta kepada Allah. Karena menurut al-Ghazali seluruh aspek karakter yang baik mengalir dari hubungan yang dilandasi rasa takut dan cinta sekaligus dalam hubungan dengan pencipta-Nya.

    Tetapi keperibadian islami melampui sekedar karakter yang baik. Ia masuk ke dalam kehidupan dunia sehari-hari. Menspiritualisasikan seluruh matrik kehidupan. Kehidupan merupakan totalitas organis sehingga prinsip-prinsip yang sama harus membimbing dan mengendalikan seluruh bagian kehidupan. Jadi dorongan untuk menyempurnakan diri harus mencakup pula keseluruhan hidup sehari-hari seorang muslim. Karena tidak ada yang diluar lingkup keperibadiannya. Dengan kata lain, kewajibannya tidak sekedar mereformasi diri sendiri, tetapi juga mereformasi orang-orang disekitarnya, melalui apa yang disebut dalam istilah al-Quran amr bi al ma'ruf wa nahi 'an al munkar (mengajak pada kebaikan, melarang keburukan).

    Karena itulah memajukan segala kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan mencegah serta memberantas hal-hal sebaliknya sesuai dengan ketentuan Allah merupakan ciri yang sangat penting dari keperibadian Islami. Baik al-Quran dan al-hadist berkali-kali menekankan hal ini. Kegagalan melaksanakan ini adalah kematian moral dan spiritualnya, dus kematian keperibadiannya. Strategisnya persoalan ini dinyatakan dalam satu hadist yang sangat terkenal. “Jika kalian lihat sesuatu keburukan, maka rubahlah dengan tangannya; jika tidak bisa, maka dengan ucapannya; jika tidak bisa, maka dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya iman”.